El Nino jadi Penyebab Produksi Beras Sulut Terhambat TPID Waspada Jelang Nataru

Rakor TPID Sulut Jelang Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru), yang digelar pagi tadi di KPw Bank Indonesia (BI) Sulut. (Manadones)

MANADO, 4 NOVEMBER 2023 – Fenomena pengering hujan, atau yang biasa disebut El Nino, menjadi penyebab produksi beras di Sulut terhambat dan menurun, yang membuat harga beras naik bervariasi

 

Bacaan Lainnya

Ini, dijelaskan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara (Sulut), Asim Saputra dalam Rapat Kordinasi (Rakor) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulut Jelang Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru), yang digelar pagi tadi di Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulut. Dampak El Nino, kata Asim telah mempengaruhi inflasi di dua kota yang menjadi indikator BPS Sulut, Manado dan Kotamobagu, hampir tiga bulan belakangan ini.

Data BPS Sulut.

“Dari kedua kota ini, beras menjadi pendorong utama Inflasi, sejak tiga bulan belakangan ini. Ini wajib diwaspadai karena sesuai data yang kami terima dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG, fenomena El Nino masih terjadi hingga awal 2024 mendatang, ini berpengaruh pada haga beras,” ujar Saputra, di Rakor TIPD Sulut yang dipimpin langsung oleh Direktur BI KPw Sulut Andry Prasmoko, dan Kepala Biro Ekonomi Setdaprov Sulut Reza Wenas.

 

Asim kemudian menguraikan dalam data, inflasi serta data produksi padi dan beras di Sulut sejak 2021 – 2023. Dimana pada 2023, cuaca amat berdampak pada realisasi luas panen padi sejak bulan Januari – September 2023 yang mengalami penurunan sebesar 2,88% dibanding Januari – September 2022. “Jadi, terjadi penurunan yang cukup signifikan pada bulan Januari dan Juli 2023 yang disebabkan cuaca ekstrem, yaitu curah hujan tinggi pada awal tahun di Kabupaten Bolaang Mongondow, Minahasa Utara dan Minahasa serta dampak kekeringan El Nino pada semester kedua 2023,” terangnya, sambil menambahkan luas panen padi Oktober – Desember 2023 diperkirakan sebesar 12,17 hektare.

 

Upaya BI Kw Sulut jelang Nataru 2023- 2024.

Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para pemangku kepentingan di Sulut termasuk di kabupaten kota, untuk melakukan kesiapan menghadapi Nataru 2023 – 2024. Dituturkan oleh Deputi BI KPw Sulut, Fernando Butarbutar, BI KPw Sulut, telah melakukan pemantauan sejak 2020, yang menjadi penunjang Inflasi di Sulut adalah angkutan udara, cabe rawit, telur dan ikan malalugis. “Dan kini, ketambahan beras sebagai penyumbang inflasi. Untuk itu, perlu beberapa hal yang harus kita lakukan seperti kendaraan angkutan pangan yang diprioritaskan, dan menggandeng tokoh agama agar jelang Nataru tidak terjadi Panic Buying,” sebut Butarbutar, sambil menambahkan pentingnya juga melihat kebutuhan pasokan BBM di Sulut terutama di SPBU yang ada kini.

 

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sulut, Iryanto Suwirono yang juga hadir langsung ikut mengingatkan bahwa El Nino, diperkirakan masih terjadi hingga Maret 2024 mendatang. Walau begitu, dia menyebut ada November dasarian II dan II, beberapa kabupaten dan kota di Sulut sudah mengalami musim penghujan. “Puncak musim penghujan diprakirakan akan terjadi pada akhir Desemer dan Januari. Walau ini hanya prakiraan, namun ini wajib diwaspadai, terutama warga dan petani untuk proses memulai musim tanamnya,” ungkap Iryanto. (graceywakary)

Pos terkait